Judul yang indah, seindah semua lakunya dihadapanku. Satu kisah, ini adalah kisah aku, maaf bukan mengutip judul lagu orang. Hanya akan ada aku, mimpiku dan semua tentang aku. Satu hati hanya akan ada satu hati yang merasa tenang menmandangnya, merasa rindu bila jauh darinya, jatuh hati padanya dan sejuta cinta tumbuh berkemabang disana untuknya. Beribu cinta, akan banyak cinta yang muncul dan tenggelam. Saling mencari dan menarik perhatian satu sama lain. Cinta yang begitu megah oleh banyaknya cinta.
Mengenalnya saat masuk SMA dan kebetulan aku dan dirinya satu kelas. Ah,… terlalu banyak kata satu… Dia cukup menarik bagiku walau tak disuka teman-teman cewekku. Buat cewek lain mungkin dia tipe yang terlalu dingin untuk memulai komuikasi langsung. Tapi aku merasa dia yang terbaik diantara cowok berandalan dikelasku.
Tiga tahun berjalan bersamanya berdampingan.Bersama menjalankan sebuah roda organisasi ekstrakulikuler disekolah. Awalnya aku biasa saja dengan ketertarikan yang sedikit lebih padanya. Tapi aku mulai terganggu saat dia berbicara tentang satu cinta yang tumbuh dihatinya. Padahal yang kutahu pacarnya beda sekolah denganya. Dia masih mengeluhkan pacarnya yang tak lagi perhatian. ” Ami terlalu sibuk bahkan untuk sekedar menerima teleponku..”, keluhnya. Aku hanya mengangguk ringan. Mungkinkah cinta yang baru?
Dia memang sedang dekat dengan senior manis ketua organisasi kami. Awalnya Aku tak beranggapan lain selain hubungan senior dan junior biasa. Sampai dia berkata,” Ya, aku telah jatuh cinta oleh setiap perkataan dan prilakunya yang lembut..”. Ya, cintanya bersemi untuk kakak senior kami diorganisasi.
Entah aku harus senang atas cintanya atau sedih atas perhatianku yang tak terbalas olehnya. Biarlah tokh aku dan dia Cuma teman, Cuma satu kelas, Cuma satu organisasi, Cuma saja aku yang menyukai dia.
Aku coba menutupi fakta yang telah hadir dihidupku. Tentang aku dan dia, yang hanya aku tahu, dan aku tutupi agar tak ada yang tahu.
Dia duduk disampingku saat bis melaju mengantarkan kami pulang. Aku senang saat pulang dengannya, walau tak pernah pulang berdua, selalu bertiga dengan senior manisnya itu. Tapi saat senior kami sibuk dengan agenda lainnya, dia kembali berjalan dan duduk disampingku berdua.
“ Aku tak tahu apa jadinya cintaku …”
“ Maksudmu?”
“ Dia selalu menghindar saat aku membahas tentang cintaku. “
“ Dia senior kita, kamu sadar kan? “
“ Cinta tak mengenal batasan usia..”
“ Sudahlah, aku kira dia punya perasaan suka padamu..”
Saat yang menyebalkan saat harus menghiburnya tentang sikap sinor manisnya yang memang juga suka pada dia.
Aku kembali menghimpun kekuatan mengubur dalam rasa kecewaku. Tapi aku selalu ingin bersamanya, dan aku terima walau dia hanya menganggapku teman biasa.
Tapi aku mulai tidak ikhlas saat seorang teman juga memendam rasa suka padanya. Namanya Anggraeni, entah kenapa aku jadi marah tiap kali dia dan anggraeni berjalan bersama walau ku tahu mereka membicarakan program kegiatan organisasi kami. Ok, baiklah, aku kubur dulu semua rasa hancur dan kecewaku, tokh aku hanya suka pada dia, tokh aku hanya teman dia, tokh aku hanya menyukai dia.
“ Kamu adalah orang yang dekat dengan dia kan? “, Senior manisnya itu berbicara padaku.
“ Nggak juga. Kita Cuma temen doank..”
“ Kamu pasti tahu aku dan dia tak mungkin saling mencintai..”
“ Tapi dia cinta banget sama.. kakak..” kata terberat yang pernah ada dibibirku.
“ Nggak, pikirkan aku tak dapat lagi bermain-main hati dengan dia. Aku harus segera mempersiapkan ujian. “
“ tapi.. “
“ Aku mau minta tolong sama kamu..”
“ Apa ? “
“ Anggraeni cocok dengan dia kayaknya ?”
Oh…my God….!!!!!!!!!!!!
“ Iya..bener, Kak. Serasi..”, sial kenapa mulutku jadi pandai berbohong???
“ Kamu mau kan buat mereka jadian ?”
Sit!!!!
“ Bagaimana ? “
“ Aku??? “
“ Iya, aku mohon. Daripada dia terus mengharapkan aku, lebih baik dia membuka hati untuk anggraeni “
Kenapa dia gak mengerti cewek dihadapannya juga menyukai dia??? Ok… ayo gali lagi hatiku untuk mengubur rasa kecewa.
“ Pasti… itu akan lebih baik untuk dia.”
Lebih baik untuk dia, lebih pantas untuk dia, lebih cocok untuk dia, lalu lebihnya aku apa? Lebih bodoh dengan menyanggupi untuk mengubur hatiku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar