Cerita tentang hatiku dan suka ku pada dia belum berhenti.
Dia bersama anggraeni dan aku orang ketiga yang selalu mensponsori hubungan mereka. Sebodoh apa sih diriku ini? Pura-pura tak terjadi apapun dalam hatiku.
Saat dia terlena dengan Anggraeni yang siap mendampingi sebagai pengganti senior manisnya, aku mencoba menyamankan diri dengan mengejar cinta yang lain. Cinta yang ku hadirkan untuk melupakan dirinya.
“ Kamu itu kayak yang membodohi diri sendiri,” komentar Emmy temanku.
“ Maksudnya???”
“ Serapat-rapatnya kamu menutupi, tapi mata dan ucapan kamu tidak dapat berbohong.”
“ Aku gak ngerti..”
“ Kamu sekarang ngejar-ngejar cinta cowok yang namanya saja kamu tak tahu. Jangan bodoh..!!! “
“ udah deh jangan dibahas..!”
“ Ok dech terserah kamu..!!!”
Ya, Emmy saja tahu kalau aku itu sedang membodohi diri sendiri. Tapi apa dia peduli??? Tidak. Dia tak tahu dan aku sedang tak ingin dia tahu.
“ Hai, Hai.. Berdua aja..!!!”, salah satu sahabatku Rere menyapa aku dan dia yang sedang berbicara berdua.
“ Sirik ya Re..? “
“ Ih, sori aja kali…”
Saat itu dia mengambil permen dari saku celananya. Permen kesukaannya yang beruntung selalu ada didekatnya. Permen rasa the manis dengan bungkus warna hijau. Dia menawariku sebungkus, dan dia melupakan Rere yang berdiri disampinku.
Setelah itu Rere ngomel-ngomel ke semua sobatku. Rere Tersinggung dengan cara dia tidak menghiraukan Rere.
“ Sebel banget dech liat dia, aku jelas disampingnya, tawar-tawar ke, nih Cuma kamu aja yang dikasih..”
“ Udah dech dia emang kayak gitu..”
Aku berusaha menenangkan emosi Rere. He..he.. walau aku merasa tersanjung dengan tingkahnya yang menspesialkan aku.
Cerita berlanjut dan aku berusaha untuk bisa menghidari tiap rasa kecewa dan sedihku akan sikap dan cintanya. Dia seakan menspesialkan aku didepan teman-temanku tapi hatinya selalu memilih orang lain.
Semakin hari dia semakin buatku kembali memperhatikan dia dengan penuh pengharapan. Apalagi orang asing yang kukejar-kejar seakan hilang entah kemana.
Dia, tak hanya teman bagiku. Dia adalah saingan ku dikelas. Dia itu pintar Fisika dan aku kurang tertarik akan itu. Dia juga encer otaknya buat pelajaran exact. Dan aku tak ingin terkalahkan. Aku selalu merasa kesal kalo saat presentasi dan dia bertanya. Soalnya pertanyaannya kadang sulit ku mengerti. Dia kayaknya sulit memngungkapkan apa yang dimaksud olehnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar